Kegiatan ini dilakukan oleh Pemuda Bukulasa yang bekerjasama dengan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Kie Raha. Kegiatan ini menghadirkan pemantik, Agus Boriri, M.Pd, Masayu Gay, M.Pd, Idwan Djais, M.Pd, Idrus Ahmad, M.Pd dan Yusri A. Boko, M.Pd. Kegiatan dialog pemuda ini dihadiri oleh pemuda Bukulasa, dan dilaksanakan di aula SMP Bukulasa Oba Tidore Kepulauan.
Pemantik I Agus Boriri, M.Pd berbicara tentang Pemuda dan Komunkasi Perjuangan, pemantik II Masayu Gay, M.Pd berbicara tentang Pemuda dan Tantanagan Perubahan, pemantik III Idwan Djais, M.Pd tentang Pemuda Masa Penjajahan, pemantik IV Idrus Ahmad, M.Pd tentang Pemuda Masa Kini, dan pemantik V Yusri A. Boko, M.Pd tentang Pemuda Masa Akan Datang.

Pemuda 28 Oktober 1928 adalah tonggak sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Tiap tahun kita memperingati Sumpah Pemuda untuk melestarikan dan mengimplementasikan nilai-nilai perjuangan para pemuda dari berbagai latar belakang kedaerahan dan kesukuan untuk menyatukan tekad guna mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia yang sedang terjajah oleh kekuatan kolonialis. Penderitaan rakyat Indonesia akibat penjajahan waktu itu memang luar biasa sehingga menggugah para pemuda kaum terpelajar Nusantara menyatukan jiwa dengan identitas yang sama yaitu satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air, Indonesia.

Penyatuan tekad kaum muda ini berdampak luar biasa besar bagi perjalanan bangsa hingga akhirnya berbuah pada kemerdekaan 17 Agustus 1945. Karena itu sepantasnyalah kaum muda masa kini memperingati sumpah yang bersejarah itu meskipun konteks waktu dan masalah yang dihadapi saat ini sudah berbeda. Sekarang tidak ada penjajahan fisik lagi. Bangsa ini lebih banyak menghadapi tantangan dalam diri sendiri. Tantangan dan ancaman dari luar juga tak bisa diremehkan, tetapi banyak yang menilai segala persoalan bangsa Indonesia masa kini datang dari dalam diri bangsa Indonesia sendiri.

Penyatuan tekad kaum muda ini berdampak luar biasa besar bagi perjalanan bangsa hingga akhirnya berbuah pada kemerdekaan 17 Agustus 1945. Karena itu sepantasnyalah kaum muda masa kini memperingati sumpah yang bersejarah itu meskipun konteks waktu dan masalah yang dihadapi saat ini sudah berbeda. Sekarang tidak ada penjajahan fisik lagi. Bangsa ini lebih banyak menghadapi tantangan dalam diri sendiri. Tantangan dan ancaman dari luar juga tak bisa diremehkan, tetapi banyak yang menilai segala persoalan bangsa Indonesia masa kini datang dari dalam diri bangsa Indonesia sendiri…(*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *